Bau obat-obatan begitu menyengat menusuk hidung, hanya duduk dan terdiam melihat seluruh keluarga saya berkumpul di tempat yang sama malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WITA.
RS. Ratu Zalecha Martapura
saya beranjak dan memasuki ruangan itu kembali, sudah tak terhitung berapa kali saya keluar masuk ruangan itu, memperhatikan seorang pria yang terbaring lemah tapi entah kenapa wajahnya begitu damai, seketika terdengar nama yang diucapkan pelan dari mulut beliau "dit, sini pang urut akan batis pang, asa kada berasa nah (senyum)", segera saya menghampiri beliau, padahal tanpa beliau minta pun saya sudah berulang kali memijit kaki beliau ketika beliau terlelap. teringat kembali memori2 masa silam, ketika saya hanya seorang anak kecil tak berdaya yang terjatuh karena kebodohan sendiri, beliau dengan lembut memijiti kaki ini yang padahal terasa tidak sakit, tapi anak bodoh ini menangis sekeras-kerasnya karena perasaan malu diri yang tak tertahan.
tangan ini terus memijit beliau dengan hati-hati, hati yang terasa sangat lirih saat tangan ini menyentuh dan memijit kaki beliau yang begitu lemah, otot betis beliau yang seakan tak bisa lagi berkontraksi dengan baik, entah kenapa saya ingin terus begini memijiti beliau sampai hari berganti selanjutnya, dan selanjutnya.
tersadar malam sudah berganti pagi
RS. Ratu Zalecha Martapura, 01.15 WITA
"ulun bulik dulu lah, esok bulik PPL langsung ke sini pulang (senyum)" ucap saya, kemudian beliau menatap dan berujar "rami banar nak ai "disana" , pian harus "kesana" , kena kita mun ada rajaki pulang insya allah, kesanaan sekeluargaan" "inggih amiin (senyum)" . cerita bagaimana bahagianya beliau selepas kembali dari tanah suci selalu menjadi topik pembicaraan favorit beliau ketika beliau tersadar dari lelap, beliau yang sangat ingin kembali lagi kesana membawa segenap keluarganya, dan membawa mereka merasakan kebahagian yang beliau rasakan. berat rasanya menggerakkan kaki keluar dari ruangan itu, saya pun menghampiri seorang wanita yang berqada dekat pintu keluar ruangan itu, "ulun bulik dulu lah, isuk kesini lagi habis PPL" "inggih, begimit aja lah dijalan" ucap wanita itu. saya pun kembali ke kontrakkan saya yang berjarak 35 Km dari Rumah Sakit itu.
sesampainya di sana, saya terbaring dan menatap hampa sejenak tanpa tersadar terlelap dengan pakaian yang masih sama persis dengan yang saya gunakan di rumah sakit itu.
Banjarmasin, Jl. Malkon Temon, 03.30 WITA
terbangun dari lelap oleh suara telepon genggam yang terasa begitu mngusik lelah, dengan mata setengah terbuka tapi hati yang terasa lirih entah mengapa, memperhatikan layar yang menyala dari telepon genggam, terbaca
"19 panggilan tak terjawab"
"4 pesan singkat"
jantung berdetak tak karuan seketika, bergetar saya membuka 4 pesan singkat yang belum terbaca, hingga terbaca
"nak ke banjarbaru lah, papah sudah kadeda, tenang pian dulu, begimit aja dijalan"
tangan ini bergerak cepat melakukan panggilan kembali ke nomor orang yang ada dirumah sakit itu, berharap ini hanya mimpi dan bukan kebenaran.
"halo assalamualaikum, kada bujuran kalo nih??" anak bodoh ini bertanya dan percaya kalau ini tidak benar.
"kesini ja pian, begimit aja dijalan"
tak sadar ada air yang terasa menetes dari mata ini dengan derasnya, mengaggu pandangan ini, sesegera mungkin saya mengambil sepeda motor dan memacunya ke tempat itu.
berteriak dan beteriak saat mata ini tak henti2nya mengeluarkan air yang terus mengaggu pandangan, di jalanan yang begitu sunyi hanya ada mobil2 pengangkut yang dapat terhitung jumlahnya mengiringi saya memacu motor ini.
tiba disana, jantung saya yang sebelumnya sudah berdetak dengan baik kembali mamacu, semakin dekat dengan ruangan itu, semakin dekat semakin memacu, hingga terlihat 2 saudara perempuan saya yang berdiri dengan mata yang sedikit merah, anak bodoh ini sadar kjembali kalau ini semua benar, saya menghampiri mereka, memeluk saya dengan hangat, hangat sekali hingga membunuh sejuknya pagi, lagi saya menangis, terisak isak, anak bodoh ini menagis terisak-isak. terdengar suara pelan dari telinga saya
"pian masuk kesana, tapi jangan menangis, pokoknya jangan menangis, kasian papah,habis tu kawani papah di ambulan sampai ke kandangan, kada boleh menangis, kada boleh, ading mba kada boleh menagis pokoknya, kasian papah"
saya mengiyakan terisak-isak.
Sedih ini seketika hilang setelah saya semakin
dekat dengan wajah beliau, wajah itu seakan tersenyum damai, tidak , beliau
benar-benar tersenyum, benar-benar damai, benar-benar tenang, tidak ada satu
orangpun dalam ruangan itu yang menangis meraung-raung, semuanya terharu
merelakan, iya merelakan, memori masa
silam kembali teringat di kepala, beliau selalu mengatakan kepada saya setiap
kali saya kehilangan apapun itu
“nak
mun hilang tu berarti kada rajakinya, habis sudah jodohnya”
“nak sudah jangan tapi ditangisi, relakan,
ikhlaskan”
Mungkin bukan hanya saya yang sering di
petuahi beliau seperti itu, mungkin setiap orang yang ada diruangan ini juga
pernah mendapat petuah seperti itu.
Mengiring langkah ini bersama dengan ranjang
beroda itu, menuju sebuah mobil ambulan yang bersiap mengantar tubuh beliau ke
tempat peristirahatan terakhir. Mata ini tak dapat menahan air yang ingin
mengalir walau ditahan sekuat tenaga, coba mengadahkan kepala agar tak menetes.
Sesaat sebelum mobil ambulan memacu, saya
sempatkan mengambil telepon genggam yang hanya menyisakan daya sedikit, untuk
mengabari satu2 nya teman satu jurusan yang juga PPL di tempat saya PPL.
“sa, aku hari ini kada masuk, abahku “bulik”
subuh tadi, mohon doanya haja lah J”
Dan juga menyempatkan untuk memberi kabar di
media sosial, sekedar untuk minta doa agar jalan beliau semakin dimudahkan.
Kandangan, 07.00 WITA
Sesampainya disana, semuanya telah bersiap,
menyambut kedatangan sekaligus bersiap merelakan. Bendera hijau, tenda, kursi
plastik yang tersusun rapi di halaman rumah, warga sekitar rumah, kerabat2,
keluarga sudah datang,iya semuanya telah bersiap untuk merelakan.
Melangkahkan kaki ini turun dari mobil
ambulan, orang2 seakan bergantian menepuk pundak saya, berisyarat bahwa saya
saya harus sabar dan merelakan. Terimakasih J
Semakin menjelang siang semakin banyak yang
datang, maaf saya tak sempat menghampiri mereka satu persatu, sempat menoleh
sejenak di bahu jalan, terlihat mobil2 sudah parkir memadati sepanjang jalan,
begitu banyak, iya banyak sekali, dalam hati berujar siapa beliau, hanya
seorang yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia yang lebih dikenal
sebagai guru olahraga. seiring berbagi cerita dengan orang2 yang datang,
semakin tersadar bahwa banyak sekali kebaikan yang telah beliau lakukan selama
hidupya, banyak sekali senyum yang beliau ciptakan untuk orang2 disekitarnya.
Tercipta pertanyaan, “apakah nanti bila saya kembali, akan banyak orang yang
datang seperti ini ?, apakah nanti bila saya kembali akan banyak orang yang
menceritakan kebaikan saya seperti ini ? apakah nanti bila saya kembali,
semuanya akan merelakan dan mengikhlaskan seperti ini ?” hanya pertanyaan yang
jawabannya akan saya tau suatu saat nanti.
Kandangan 12.30 WITA
Semuanya telah bersiap mengantar beliau ke
tempat tidur terakhir dan ternyaman. Mengiring beliau dengan doa sepenuh hati.
Prosesi yang dilakukan seperti biasa, sampai tempat tidur ternyaman itu tertutup
rapat, semuanya mengikhlaskan, semuanya merelakan, tepukan dipundak saya yang
mengisyaratkan untuk sabar dan merelakan (lagi).
Orang2 datang tak henti2 dalam 3 hari setelah
hari itu, 3 hari yang selalu diisi dengan berdoa dan berbagi cerita. Cerita
yang sering terulang-ulang namun tetap mengasyikkan. Entah bagaimana bahagianya
beliau sekarang melihat orang2 terdekatnya berkumpul di satu tempat, bersilaturmi,
sesekali tersenyum, walau tawa lepas belum terdengar.
Sekarang
Kala sendiri benar sekali hati ini lirih, hati ini
rindu, sesal yang tak kunjung reda, mengapa secepat ini, belum sempat
membanggakan beliau sepenuhnya. Yang tersisa hingga kini hanyalah kerinduan,
kerinduan yang mendalam, sangat dalam.
Tapi
sekali lagi petuah2 beliau yang tidak membiarkan diri ini terpuruk.
Mungkin ini lah saatnya, saatnya memulai
hidup, saatnya menciptakan kebaikan, saatnya menciptakan senyuman, menggantikan
beliau dalam hidup yang tak tau akan berhenti kapan.
Terakhir,
beliau telah berhasil menjadi manusia yang sukses, menjadi manusia yang
meninggalkan banyak hal untuk kehidupan, banyak hal untuk di lanjutkan, terima
kasih banyak, dengan rindu yang tak akan pernah reda dan tak ada pernah obatnya
ini, saya ucapkan
Terima Kasih Pah *senyum lebar*